Sabtu, 14 Januari 2012

HIPOGLIKIMIA

HIPOGLIKIMIA
I.      DEFINISI
Hipoglikimia adalah menggambarkan individu yang mengalami atau beresiko untuk mengalami kadar gula darah terlalu rendah untuk fungsi metabolisme.glukosa darah yang kurang dari 50 mg/100 ml darah. Pada umumnya gejala-gejala hypoglikemia baru timbul bila kadar glukosa darah lebih rendah dari 45mg %.

II.    ETIOLOGI

Etiologi hipoglikimia pada diabetes melitus (DM):
1                     Hipoglikimia pada DM stadium dini
2                     Hipoglikimia dalam rangka pengobatan DM
·               Penggunaan insulin
·               Penggunaan sulfonilurea
·               Bayi yang lahir dari ibu pasien DM
3                     Hipoglikimia yang tidak berkaitan dengan DM
·               Hiperinsulinisme alimenter pascagastrektomi
·               Insulinoma
·               Penyakit hati berat
·               Tumor ekstrapankreatik : fibrosarkoma, karsinoma ginjal
·               Hipopituitarisme.
Faktor predisposisi terjadinya hipoglikimia pada pasien yang mendapat pengobatan insulin atau sulfonilurea:
1                                                         Faktor-faktor yang berkaitan dengan pasien
·                                                                                       Pengurangan/keterlambatan makan
·                                                                                       Kesalahan dosis obat
·                                                                                       Latihan jasmani yang berlebihan
·                                                                                       Perubahan tempat suntikan insulin
·                                                                                       Penurunan kebutuhan insulin
Ø                   Penyembuhan dari penyakit
Ø                   Nefropati diabetik
Ø                   Hipotiroidisme
Ø                   Penyakit addison
Ø                   hipopituitarisme
·                                                                                       Hari-hari pertama pasien persalinan
·                                                                                       Penyakit hati berat
·                                                                                       Gastroparesis diabetik
2                                                         Faktor- faktor yang berkaitan dengan Dokter
·               Pengendalian glukosa darah yang ketat
·               Pemberian obat-obat ang mempunyai potensi hypoglikemik
·               Penggantian jenis insulin.




III.       MANIFESTASI KLINIS

Gejala – gejala hipoglikimia terdiri dari dua fase, yaitu;
1                         Fase I, gejala-gejala akibat aktivasi pusat autonom di hipotalamus sehingga hormon epinefrin dilepaskan. Gejala awal ini merupakan peringatan karena pada saat itu pasien masih sadar sehingga dapat diambil tindakan  yang perlu untuk mengatasi hipoglikimia lanjut.
2                         Fase II, gejala-gejala yang terjadi akibat mulai terganggunya fungsi otak, karena itu dinamakan gejala neurologis.
Penelitian pada orang bukan diabetes menunjukkan adanya gangguan fungsi otak yang lebih awal dari fase I dan dinamaan gangguan fungsi otak subliminal. Di samping gejala peringatan dan neurologis, kadang-kadang hipoglikimia menunjukkan gejala yang tidak khas.
Kadang-kadang gejala fase adrenergik tidak muncul dan pasien langsung jatuh pada fase gangguan fungsi otak. Terdapat dua jenis hilangnya kewaspadaan, yaitu akut dan kronik. Yang akut,misalnya pada pasien DMTI dengan glukosa darah terkontrol sangat ketat mendekati normal, adanya neuropati autonom pada pasien yang sudah lama menderita DM, dan penggunaan β bloker yang nonselektif. Kehilangan kewaspadaan yang kronik biasanya ireversibel dan dianggap merupakan komplikasi DM yang serius.
Sebagai dasar diagnosis dapat digunakan trias whipple, yaitu hipoglikimia dengan gejala-gejala saraf pusat; kadar glukosa kurang dari 50 mg%; dan gejala akan menghilang dengan pemberian glukosa.
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan hipoglikemia  berat dan berkepanjangan adalah  kegagalan sekresi hormon  glukagon dan adrenalin (pasien telah lama menderita DM), adanya antibodi terhadap insulin, blokade farmakologik (β bloker non selektif), dan pemberian obat sulfonilurea (obat anti DM yang berkhasiat lama).

IV.      DIAGNOSTIK TEST YANG LAZIM

Pada pasien DM yang mendapat insulin atau sulfonilurea ditegakkan bila didapatkan gejala-gejala tersebut diatas. Keadaan tersebut dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan glukosa darah. Bila gejalanya meragukan sebaiknya diambil dulu darah untuk pemeriksaan kadar glukosanya. bila dengan pemberian suntikan bolus dextrosa pasien yang semula tidak sadar menjadi sadar, maka dapat dipastikan, hypoglikemia. Sebagai dasar diagnosis dapat digunakan tris whipple ;
1.        hypoglikemia dengan gejala-gejala saraf pusat, psikiatrik atau vasomotorik
2.        Kadar glukosa darah kurang dari 50 mg%
3.        Gejala akan menghilang dan pemberian gula.


V.   PATOFISIOLOGI DAN DAMPAK PADA PENYIMPANGAN KDM

A. PATOFISIOLOGI
Hipoglikemia adalah glukosa darah yang kurang dari 50 mg/100 ml darah. Hipoglikemia dapat disebabkan oleh puasa, atau khususnya puasa yang disertai olah raga, karena olahraga meningkatkan pemakaian glukosa oleh sel-sel otot rangka. Namun hypoglikemia lebih sering disebabkan oleh kelebihan insulin pada pengidap diabetes dependen-insulin.
Karena otak memerlukan glukosa darah sebagai sumber energi utamanya, maka hypoglikemiamenyebabkan timbulnya berbagai gejala gangguan fungsi susunan saraf pusat(SSP) berupa konfusi, iritabilitas, kejang dan koma. Hypoglikemia dapat menyebabkan nyeri kepala, akibat perubahan aliran darah otak dan perubahan keseimbangan air. Secara sistemis, hipoglikemia menyebabkan pengaktifan sistem saraf simpatis yang merangsang rasa lapar, kegelisahan, berkeringat, dan takikardia.








B. PENYIMPANGAN KDM

Hypoglikemia sering terjadi karena

Kurang pemasukan            kesalahan medikasi            kelainan endokrin   penyakit pankreas


Penurunan glukosa darah


Penurunan epinefrin                                              kekurangan glukosa dalam jaringan otak






 

Gejala pada sistem saraf otonom              perubahan status neurologis


 

Keluar keringat,dingin, lapar,tremor,dll    iritable,sakitkepala, apatis,sincope,dll
                                                                                     shock hypoglikemia
penurunan kesadaran

potensial cedera

VI.      PENGKAJIAN

Perawat harus mengkaji pola nilai-nilai glukosa pasien dan menghindari pemberian insulin dengan dosis yang berkali-kali menimbulkan hypoglikemia. Pemberianinsulin regular yang berturut-turut harus dilakukan tidak lebih dari setiap 3 hingga 4 jam sekali. Bagi pasien yang mendapatkan NPH atau insulin lente sebelum sarapan atau makan malam, perawat harus berhati-hati ketika memberikan dosis tambahan insulin regular pada saat makan malam dan saat akan tidur. Hipoglikemia dapat terjadi ketika dua pemberian insulin mencapai puncak kerjanya bersama dengan insulin regular yang diberikan saat makan siang dan keadaan ini dapat menimbulkan hypoglikemia pada sore harinya. Untuk menghindari reaksi hypoglikemik yang disebabkan oleh asupan makanan yang terlambat, perawat harus mengatur penyediaan camilan yang akan diberikan kepada pasien jika makanannya kemungkinan tertunda oleh prosedur, fisioterapi atau aktivitas lainnya.

VII.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan  pada hipoglikemia yaitu;
·               Potensial terjadinya hypoglikemia berhubungan dengan kelebihan insulin tubuh
·               Aktual terjadinya hypoglikimia berhubungan dengan kelebihan insulin tubuh
·               Potensial cedera berhubungan dengan penurunan kesadaran akibat syok hypoglikemia.

VIII.               INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI

  1. INTERVENSI
1     Pantau kadar gula darah sebelum pemberian obat-obat hypoglikemik dan atau sebelum makan dan 1 jam sebelum tidur (gula darah adalah parameter yang lebih akurat daripada glukosa urine, yang dipengaruhi oleh ambang ginjal dan fungsi ginjal.
2     Pantau tanda  gejala hypoglikemia :
q     Kadar gula darah kurang dari 70mg/dL
q     Kulit dingin, lembab dan pucat
q     Takikardia
q     Peka rangsang, gelisah
q     Tidak sadar oleh karena hypoglikemia
q     Tidak terkoordinasi
q     Bingung, mudah mengantuk
3     Jika klien dapat menelan, berikan setengah gelas jus jeruk, cola  atau semacam golongan jahe setiap 15 menit sampai kadar glukosa darahnya meningkat diatas 69mg/dL.(karbohidrat yang sederhana akan dimetabolisme dengan cepat)
4     Jika klien tidak dapat menelan, berikan glukagon hidroklorida subkutan atau 50 ml glukosa 50% dalam air  IV, sesuai protokol.
(glukagon menyebabkan glikogenelisis dalam hepar dan dapat menyimpan glikogen secara adekuat. Jika klien dalam kondisi kritis dimana klien telah jatuh dalam koma untuk beberapa saat, cadangan glikogen mungkin telah habis digunakan, dan glukosa IV satu-satunya yang lebih efektif.
5     Periksa  kadar glukosa setelah 1 jam pemberian terapi glukosa dan diharapkan mencapai 69 mg/dL (pemantauan yang teratur dapat mendeteksi tanda-tanda dini kadar glukosa darah; tinggi/rendah.
6     Berikan larutan gula peroral jika pasien sadar
7     Berikan glukosa intravena 10-50 ml mengandung glukosa 40-50 % untuk pasien yang tidak sadar.
8     Kolaborasi pemberian therapy jika dalam 10 menit belum ada perbaikan
9     Jauhkan benda yang dapat menyebabkan cedera
10  Berikan tongue spatel jika lidah tergigit
11  Berikan penghalang pada keluar tempat tidur pasien.
12  Jika ada indikasi konsul dengan ahli gizi untuk pemberian kudapan sebelum jam tidur dengan karbohidrat yang lebih kompleks. (tindakan ini dapat mencegah terjadinya hypoglikemia sewaktu tidur).
B.       IMPLEMENTASI
1     Memantau kadar gula darah sebelum memberikan obat-obat hypoglikemik dan atau sebelum makan dan 1 jam sebelum tidur (gula darah adalah parameter yang lebih akurat daripada glukosa urine, yang dipengaruhi oleh ambang ginjal dan fungsi ginjal.
2                     Memantau tanda  gejala hypoglikemia :
q       Kadar gula darah kurang dari 70mg/dL
q       Kulit dingin, lembab dan pucat
q       Takikardia
q       Peka rangsang, gelisah
q       Tidak sadar oleh karena hypoglikemia
q       Tidak terkoordinasi
q       Bingung, mudah mengantuk
3     Memberikan setengah gelas jus jeruk, cola  atau semacam golongan jahe setiap 15 menit sampai kadar glukosa darahnya meningkat diatas 69mg/dL.jika klien dapat menelan.
4     Memberikan glukagon hidroklorida subkutan atau 50 ml glukosa 50% dalam air  IV,  jika klien tidak dapatmenelan.sesuai protokol.
5     Memeriksa  kadar glukosa setelah 1 jam pemberian terapi glukosa dan diharapkan mencapai 69 mg/dL (pemantauan yang teratur dapat mendeteksi tanda-tanda dini kadar glukosa darah; tinggi/rendah.
6                     Memberikan larutan gula peroral jika pasien sadar
7     Memberikan glukosa intravena 10-50 ml mengandung glukosa 40-50 % untuk pasien yang tidak sadar.
8     Kolaborasi pemberian therapy jika dalam 10 menit belum ada perbaikan
9                     Menjauhkan benda yang dapat menyebabkan cedera
10                  Memberikan tongue spatel jika lidah tergigit
11                  Memberikan penghalang pada keluar tempat tidur pasien.
12  Melakukan  konsul dengan ahli gizi untuk pemberian kudapan sebelum jam tidur dengan karbohidrat yang lebih kompleks. (tindakan ini dapat mencegah terjadinya hypoglikemia sewaktu tidur).

IX.      EVALUASI

Hasil yang diharapkan;
1.    Mencapai keseimbangan cairan dan elektrolit
a.    Memperlihatkan keseimbangan asupan dan haluaran.
b.    Menunjukkan nilai-nilai elektrolit dalam batas-batas normal
    1. Tanda-tanda vital tetap stabil dengan teratasinya hipotensi   ortostatik  dan takikardia.
2.    Mencapai keseimbangan metabolik
a.    Menghindari kadar glukosa yang terlalu ekstrim (hipoglikemia)
b.    Memperlihatkan perbaikan episode hypoglikemia yang cepat
c.Menghindari penurunan berat badan selanjutnya (jika diperlukan) dan mulai mendekati berat badan ayng dikehendaki.


DAFTAR  PUSTAKA
Mansjoer Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran (Jilid I). Media Aesculapius    Fakultas Kedokteran UI. Jakarta.
Smeltzer  C. Suzanne & Brenda G. Bare. (2002). Keperawatan Medikal Bedah (Vol.2). Penerbit Buku Kedokteran (EGC). Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar